Dosen UMI Ajak Warga Maros Manfaatkan Kotoran Sapi Jadi Kompos dan Biogas

 

Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjalankan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) model Kampung Sadar Sanitasi Melalui Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Biogas dan Pupuk Kompos. Program yang mendapatkan banyan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikburistek) ini dilakukan di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Rabu (23/8) lalu.

Ketua Pengabdi, Ayu Puspitasari  saat dikonfirmasi menjelaskan kegiatan ini menyasar warga Desa Pucak yang memiliki ternak sapi. Tujuannya, kata dia, agar masyarakat bisa paham dengan model kampung sadar sanitasi. Dalam program ini warga juga diajak untuk mengubah kotoran sapi menjadi biogas dan juga pupuk kompos. “Saat ini yang kita lakukan itu agar pemanfaatan limbah ternak itu bisa lebih baik lagi dan bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha, estetika dan pengendalian kesehatan lingkungan,” ujarnya, Jumat (25/8/2023).

Ia menyebutkan Desa Pucak dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena tahun sebelumnya program sanitasi terkait jamban sehat telah dilakukan. Sehingga lebih mudah melanjutkan untuk program membentuk kampung sadar sanitasi. “Pucak merupakan desa binaan UMI, saya juga sudah pernah melakukan program sanitasi sebelumnya, kenapa kita tidak lanjutkan hal yang sudah kita mulai untuk membentuk kampung sadar sanitasi,” tambahnya.

Ayu menjelaskan ada banyak manfaat yang dapat diperoleh jika masyarakat memanfaatkan kotoran sapi menjadi kompos dan biogas. “Kalau sudah pakai biogas tidak perlu lagi menggunakan tabung elpiji, begitupun untuk tumbuhan, bisa lebih sehat karena tidak ada kandungan racun kimia pada kompos. Kelebihannya jika menggunakan biogas, api yang dihasilkan lebih merata,” sambungnya. Sementara itu, Kepala Seksi Pembibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak (PT-HPT) menjelaskan sebelumnya ada beberapa warga yang sempat memanfaatkan biogas sebagai pengganti tabung gas elpiji.

Hanya saja kesulitan untuk mengumpulkan bahan baku pembuatan biogas yakni kotoran sapi. “Tapi kendalnya itu, sapi tidak dikandangkan sementara untuk pengolahan kompos dan biogas itu agak susah jika ternaknya dilepasliarkan karena kotorannya itu kemana-mana,” terangnya. Set Pasino menuturkan untuk membuat biogas dari kotoran sapi, hanya dibutuhkan kurang lebih 10 kg kotoran sapi dicampur dengan 10 liter air.

Biogas ini diklaim mampu bertahan hingga seminggu, selain itu api yang dihasilkan pun lebih stabil. Sementara untuk pupuk kompos dibutuhkan 10 ton kotoran sapi, untuk lahan seluas 1 hektare. “Kami tetap pakai urea, karena masih baru tapi jumlahnya dikurangi, jika biasanya pakai sekarung, sekarang tinggal seperdua, nanti jika kondisinya sudah bagus bisa saja penggunaan urea sisa 25 persen, bahkan lama kelamaan pupuknya 100 persen sudah pakai kompos,” tutupnya.D alam kegiatan ini, warga yang hadir diajak melihat langsung proses pembuatan kompos dari kotoran sapi. Namun sebelumnya, Salah Seorang Anggota Tim Pengabdian, Haerdiansyah juga membawakan peluang potensi usaha kotoran limbah ternak sapi di hadapan warga.