Congratulations buat Mahasiswa FKM UMI

0
66

Mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat UMI Menganalisis Kewaspadaan dan Kolektivitas Remaja terhadap Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19. Selama masa pandemi ini, berbagai sendi kehidupan masyarakat mengalami pelambatan. Untuk itu, Indonesia menerapkan New Normal, yang kemudian pada bulan Juni lalu diksi ini diganti dengan istilah adaptasi kebiasaan baru.  Tatanan kebiasaan baru ini muncul karena proses penyelesaian pandemi tidak bisa dilakukan secara cepat, namun diperlukan acuan untuk masyarakat beradaptasi melakukan kegiatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar anak-anak muda tetap waspada terhadap infeksi virus corona. Peringatan datang setelah laporan lonjakan kasus tampak meningkat di antara kalangan muda yang dimulai pada Juni lalu.

Berangkat dari hal tersebut, tiga mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia; Muh.Arfah, Nur Mutiara Husnah Hidayatullah BW, dan Vadiah Syahrani, membuat karya ilmiah pertama bagi mereka dengan mengangkat judul “Analisis Kewaspadaan dan Kolektivitas Remaja terhadap Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19”. Penelitian yang dipresentasikan pada tanggal 28 Oktober 2020 ini, membahas tentang hasil dari penelitian yaitu terkait kondisi new normal yang ternyata menjadi kecenderungan untuk hilangnya rasa waspada remaja. Dari 120 sampel remaja di Makassar dengan rentang usia 14-24 tahun, sebanyak 60% remaja merasa setuju bahwa kondisi new normal akhir-akhir ini menurunkan tingkat kewaspadaan, sedangkan remaja yang kurang setuju berkisar 27,5%, dan hanya ada 12,5% yang sama sekali tidak setuju jika kondisi new normal menjadi kecenderungan menurunnya kewaspadaan.

Rendahnya tingkat kewaspadaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berdasarkan karya yang disusun oleh tiga mahasiswa prodi kesehatan masyarakat ini juga merujuk pada teori Kurt Lewin tentang perubahan perilaku, bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (drivng forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (Irestrining forces). Pada permasalahan rendahnya tingkat kewaspadaan remaja, dikatakan bahwa terjadi keseimbangan antara pengetahuan dan persepsi. Sehingga untuk meningkatkan kewaspadaan remaja, perlu memperkuat faktor pendorong dan melemahkan faktor penahan.

“Perlu memasifkan kembali edukasi dan informasi yang akhir-akhir ini mulai meredup di jagat media sosial”, ungkap Nur Mutiara Husnah H BW, dalam menjawab upaya memperkuat faktor pendorong peningkatan kewaspadaan, pada presentasi penelitian tanggal 28 Oktober.  Remaja adalah masa dimana mereka memiliki keingintahuan yang tinggi. Pemberian edukasi secara massif diperlukan untuk kembali menjadikan tingkat kewaspadaan terhadap adaptasi kebiasaan baru menjadi trend baru di kalangan kaum muda, sehingga bukan hanya teredukasi, tapi juga turut berpartisipasi. Mengingat anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan membangun jejaring kolektif dengan baik, maka solidaritas ini bisa menjadi kekuatan melewati masa sulit pademi global COVID-19.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here