MAKASSAR, FKM UMI – Anemia atau kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terkadang diabaikan khususnya oleh kalangan remaja. Hal ini terlihat dari jumlah remaja yang menderita anemia di Indonesia masih sangat tinggi. Dari data riset kesehatan dasar tercatat 21,7% remaja Indonesia menderita anemia. Berdasarkan jenis kelamin, penderita anemia paling banyak adalah perempuan dengan persentase 23,9% sementara laki-laki 18,4%.

Banyak orang beranggapan bahwa penyakit anemia merupakan penyakit yang tidak terlalu berat, sehingga tidak diperlukan perhatian khusus, ujar dosen FKM UMI, Halida saat ditemui di ruangannya, Rabu (5/9/2017).

Padahal kata Halida, jika anemia tidak ditangani dengan cepat dan tepat khususnya pada remaja putri akan berdampak pada proses melahirkan. Remaja yang mengalami anemia akan mengalami gangguan saat masa hamil, proses melahirkan dan menyusui. Baik bagi ibu maupun anak yang akan dilahirkan, jelas Halida.

Kata dia, remaja putri mempunyai risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja putra karena setiap bulannya mengalami menstruasi. Dimana volume darah berkurang yang berakibat akan kehilangan zat besi (Fe).

Selanjutnya, remaja putri yang sering menjaga penampilan dan keinginan agar tetap langsing sehingga melakukan diet yang salah tanpa berkonsultasi pada ahli gizi.  Padahal, remaja yang mengalami menstruasi harus memenuhi kebutuhan zat besi sehingga pola makan yang kurang baik.

Dampak anemia pada remaja putri mungkin tidak dapat langsung terlihat, namun akan mempengaruhi kehidupan remaja selanjutnya karena remaja putri merupakan calon ibu yang harus diperhatikan status kesehatan dan gizinya, jelas wanita kelahiran Makassar 23 September ini.

Menurutnya, status gizi sebelum hamil akan sangat berpengaruh terhadap kehamilannya, sehingga status gizi pranikah perlu diperhatikan.  Dampak dari anemia pada remaja adalah gangguan fungsi kognitif seperti bersifat cengeng, apatis dan mempunyai kemampuan berkonsentrasi rendah dan menurunnya kapasitas fisik.

Anemia yang berlanjut sampai dewasa dan hingga perempuan tersebut hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya abortus (keguguran), kelahiran prematur, pertumbuhan janin terhambat dan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Upaya penanggulangan anemia dapat dilakukan dengan mengkonsumsi suplemen penambah darah, mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah, tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here